Adsense Indonesia

Selasa, 23 Juli 2013

Cerpen Menunggu Pelangi (Waiting For a Rainbow) :


Cerpen Menunggu Pelangi. Cerpen: (Waiting For a Rainbow) Menunggu Pelangi Terbaru

Menunggu Pelangi

(Waiting For a Rainbow) 

Aku Andia. Bersekolah di SMA negri dikotaku. Aku mempunyai 1 orang  kakak laki-laki dan 1 orang adik perempuan yang amat kusayangi. Aku  dibesarkan di tengah keluarga yang sederhana. Ibuku bekeja sebagai  tukang jahit, sedangkan ayahku adalah seorang pengangguran pemalas yang  tak mau menafkahi keluarganya. Ada satu cerita tentangnya yang membuat  aku merasa bersalah padanya sampai sekarang. 

Pada masa itu adalah  masa-masa krisis moneter. Dimana harga barang pokok melunjak naik tanpa  ampun dan membuat rakyat seperti kami harus lebih giat mengais rezeki  untuk sesuap nasi. Yaa… krisis itu membuat kammi sekeluarga kelaparan  walaupun kami masih beruntung karena masih ada makanan yang masih bisa  dimakan.

Ibuku hanya seorang penjahit biasa yang gigih menafkahi  keluarganya dengan kemampuan menjahit warisan dari nenek. Pada masa  krisis ini, hanya sedikit orang yang mau menjahitkan bajunya pada ibu  lantaran mereka kasihan dengan ibu. Maklum, siapa sih yang mau  menghambur-hamburkan uangnya pada masa seperti ini ?. semuanya berhemat  untuk kelangsungan hidup masing-masing. 

Suatu pagi, aku membantu ibu  menjahitkan pesanan pelanggan ibu, sambil belajar sedikit agar aku  menjadi penjahit dan bisa mengurangi beban beliau.

“bu, Andia bantu yaa” kataku. Sambil menunggu kepastiannya, aku mulai ancang-ancang memegang gunting. 

“boleh” sahut ibu. “tolong andia gunting pola yang sudah ibu buat”
“iya, bu” dengan cekatan, aku menggunting pola-pola kain yang sudah di buat ibu.
Tak lama kemudian, lewat ayah yang kemudian menuju meja makan dan  membuka tudung saji. Aku hanya sempat meliriknya kemudian kembali  melanjutkan pekerjaanku. Tiba-tiba…
BRAAKKK…..
Suara seperti  meja yang dihempaskan. Aku dan ibu tersentak. Adikku yang masih tidur  tak kalah kaget sampai-sampai ia terbangun dari tidurnya dan menangis.  Aku buru-buru ke kamar dan menggendongnya, membujuknya agar berhenti  menangis.
“MANA NASI ? AKU LAPAR” teriak ayah dengan suara lantang. Sungguh, aku sangat membenci suaranya seperti itu.
“nasi sudah habis dimakan tadi pagi mas, aku tidak punya uang untuk membeli beras” jawab ibuku dengan sabar.
“KAMU ITU TIDAK BECUS BEKERJA ! UNTUK MEMASAK MAKANAN AKU SAJA PUN KAU  LALAIKAN” teriak ayah dengan kasar. Sedangkan ibu hanya diam saja. Ibuku  tak mau melawan. Tak lama kemudian, ayah kembali pergi sambil  menghempaskan pintu rumah.
Aku gendong adikku dan meletakannya  disamping ibu. Kulihat air bening di sudut matanya. Tampak ia sangat  menahan apa yang telah terjadi.
“sudahlah bu… ayah kan memang  seperti itu” kataku menenangkan ibu. Ibu hanya menatap adikku sambil  berusaha menahan airmata yang keluar agar ia tetap terlihat tegar di  depan anak-anaknya.
Ibu tersenyum “ayo, kita lanjutkan. Ibu mau  mengantar jahitan ini ke pelanggan. Nanti sore Andia yang antar yaa,  nak. nanti kalau dapat uangnya, bisa ibu belikan untuk makan malam ayah”  jawab ibu sambil melanjutkan pekerjannya.
Sungguh, hatiku sangat  sakit melihat ibu yang hanya sendirian mencari uang sedangkan ayah hanya  bersenang-senang dan tidak tau betapa sulitnya ibu bekerja untuk  membeli apa yang ia makan dirumah. Tetapi, ibu tidak mau melawan. Ia  menerima saja apa perlakuan ayah terhadapnya.
“assalamu’alaikum” terdengar suara yang tak asing di telingaku. Yaa.. itu kakak ku, kak Nando.
“wa’alaikumsalam… akhir-akhir ini Nando kok lama pulangnya ?” tanya ibu setelah kak nando mencium tangan ibu.
“maaf bu, Nando tadi mengajar anak-anak SD mengaji” jawab kak Nando  singkat. Sudah 2 minggu kak nando menjadi guru mengaji anak-anak taman  pendidikan Al-Qur’an di mesjid sebelah. Hanya aku yang tahu dirumah ini  kalau kak nando bekerja.
“ya sudah. Ganti baju, lalu mandi. Nanti  Nando tolong antarkan Andia ke tempat pelanggan jahitan ibu ya” kata ibu  sambil melanjutkan kembali jahitan yang masih tersisa. Kak Nando  mengangguk tanpa menyahut.
***
Akhirnya malam itu kami akan juga  sekeluarga walaupun dengan lauk seadanya. Ayah makan dengan lahap tanpa  melihat sedikitpun kea rah kami. Kak Nando melirik tajam kea rah ayah  tanda ia tak suka dengan kelakuan ayah. Sedangkan aku dan ibu diam saja  sambil meyuapi adik makan.
“makanannya Cuma segini. Mana lagi tambahannya !!!” bentak ayah sambil mehempaskan tangannya dimeja.
Ibu, aku dan adikku tersentak. Adikku menangis karena kaget. Sedangkat kak Nando memerah mukanya tanda ia menahan amarahya.
“AYAH BISA TIDAK BAIK-BAIK KALAU BERTANYA !!!” kata kak Nando keras. Ia tak bisa menahan emosinya kali ini.
Ayah mendelik, dan berkata “KAMU ANAK KECIL JANGAN COBA NASEHATI ORANG  TUA !!!” ayah beranjak ke tempat duduk Kak Nando. “itu kesalahan ibu  kalian !!!” kata ayah sambil menunjuk ibu
“ayah jangan menyalahkan  ibu terus ! ayah tidak tau betapa letihnya ibu memikirkan semua biaya  untuk makan sehari-hari, bekerja untuk mendapatkan uang, sedangkan ayah  hanya santai melala sana-sini, mengambil dan menghamburkan uang yang di  dapat ibu !” jawabku dengan spontan dan berani.
TARRR…
Tangan  keras ayah menamparku. Mukaku terasa panas menahan semua amarah yang ku  pendam. Airmataku mengalir. Dadaku terasa sesak. Aku menangis memeluk  ibu dan adikku. Ibu juga menangis tanpa bicara dari tadi. Suasana rumah  menjadi semakin hancur sehancur perasaanku saat ini. aku benci ayah… aku  benci ayah… aku benci ayah…
“andia, nando, cepat bawa adik ke kamar” perintah ibu. Kami langsung melaksanakannya.
Diluar kamar, terdengar suara ayah dan ibu yang sedang bertengkar.  Sesekali ayah memukul meja makan dan menendang keras kursi. Entah apa  yang berkecamuk dihatiku. Aku menangis lagi. Aku tak dapat membayangkan  betapa tegarnya ibu, betapa gigihnya ibu, dan betapa hancurnya perasaan  ibu saat ini.
“sudahlah din… jangan menangis terus” ujar kak Nando.  Aku masih diam sambil memandang lantai kamar. “ayah orangnya memang  keras”
Aku mengangguk. Membelai-belai rambut adikku yang kini  terlelap. “kenapa ayah seekarang seperti itu ya kak ?” tanyaku  tiba-tiba.
Kak Nando menggelengkan kepalanya. Ia merebahkan dirinya dan memejamkan mata dengan tangannya. “ini sudah nasib kita din”
PRAAAANNNGG
Terdengar suara piring di pecahkan seiring dengan suara tangisan ibu.  Kemudian terdengar suara pintu dihempaskan dari arah pintu masuk. Yaa..  ayah pasti keluar lagi.
Aku dan kak Nando keluar lalu menghampiri  ibu. Menuntun ke kamar ibu. Ibu yang kini terisak tak mampu bicara  apa-apa. Hatinya pedih diperlakukan ayah seperti itu. Kak Nando memeluk  ibu yang masih menangis dan aku menggenggam tangan ibu yang dingin
“ibu jangan menangis lagi” bujuk kak Nando “kan masih ada Nando, Andia dan dik Nazila bu”
“ibu hanya memandang kami dan mengangguk. Matanya yang sembab kini telah kering oleh airmata yang tak mengalir lagi.
“ayo, kalian wudhu… kita sholat berjama’ah sama-sama” kata ibu.  Memaksakan dirinya untuk tersenyum di saat-saat seperti ini. hatiku  teriris melihat ibu seperti ini. Ibu memang benar-benar wanita yang  kuat.
***
Selesai sholat, aku berbaring memeluk ibu. Ibu balas  memelukku. perasaan marahku pada ayah telah sirna oleh pelukan ibu yang  hangat. Aku sayang ibu.
“bu…” sapaku.
“hm ?”
“ibu kuat ya… ibu sanggup menahan semua perlakuan ayah”
Ibu tersenyum. Aku tahu, di balik senyumnya itu ada luka yang tak mampu ia ungkapkan. “karna ibu sayang sama ayah, nak”
“sampai segitunya ya bu ? kenapa ibu tidak minta cerai saja sama ayah ?”
“kalau ibu cerai sama ayah, siapa yang akan memasakkan ayah makanan ?  siapa yang mengurus ayah ?” jawab ibu. Aku tak menyangka ibu begitu  memikirkan ayah.
“kenapa ibu mau menikah dengan ayah ?” tanyaku spontan. “maaf bu, andia tak seharusnya bertanya seperti itu”
Ibu tersenyum “kalau ibu menikah dengan orang lain, kak Nando, Andia,  Nazila pasti tidak ada sekarang disini. Pasti ibu kesepian” kata ibu.
“seandainya waktu bisa diputar kembali, Andia rela kalau Andia gak ada. Asalkan ayah jangan menikah sama ibu” kataku.
“kenapa begitu ?” tanya ibu padaku.
“hati Andia sakit kalau melihat perlakuan kasar ayah. Ayah pemarah,  sedangkan ibu penyabar. Sifat ayah sangat bertolak belakang dengan sifat  ibu”
Ibu memandang langit kamar “terkadang apa yang kita anggap  baik pada saat itu, belum tentu baik untuk saat kedepannya. Bisa saja  semuanya berubah seiring berjalannya waktu” jawab ibu.
Aku memeluk  ibu erat. Seakan berbagi rasa pahit yang di alaminya. Bagi sedikit rasa  sakit itu bu… agar Andia tahu betapa getirnya yang ibu rasakan… gumamku  dalam hati. Tetapi, ibu seolah-olah berkata, biarkan ibu yang merasakan  semuanya, Andia. Ibu tak mau Andia merasakan apa yang ibu rasakan.  Biarlah semua ibu yang menanggungnya…
***
Pagi itu ayah pulang  kerumah. Seperti biasa ayah langsung menuju meja makan dan membuka  tudung saji. Ayah melihat nasi dan lauk pauk di atas meja. Kemudia ayah  mengambil piring, mengambil nasi dengan banyak dan lauk pauk yang ada,  ayah makan dengan lahap. Ibu yang baru siap mencuci menghampiri ayah dan  meminta maaf pada ayah. Ayah hanya diam saja tanpa memandang ibu.
Tanpa banyak bicara, ayah langsung menuju kamar dan tidur. Ibu hanya  memandang ayah sampai di balik pintu. Aku melihat ibu menuju ke mesin  jahit untuk melanjutkan pekerjaannya.
“andia… sst… sini” panggil kak Nando di balik jendela.
“ada apa kak ? kok ngumpet ?” tanyaku
“sstt… jangan keras-keras… kamu keluar dulu” perintah kak nando padaku.  Tanpa banyak tanya aku pun keluar menuju jendela kamar di sampin teras.
“kita harus pergi untuk 1 hari ini saja. Kamu mau temani kakak kan ?”
“memangnya kita mau kemana kak ?”
“kemana aja. Yang penting kita gak ada dirumah saat ini. kakak mau bukti, apa ayah peduli sama kita atau nggak” kata kak nando.
“trus sekolahku gimana ? masa aku harus bolos ?”
“yaahh.. .sekali-sekali kan gak apa-apa”
Aku melihat notes kecil yang biasa kubawa kemana-mana. Kayaknya gaka ada ulangan hai ini, gumamku.
“ya udah deh… Andia ikut”
“oke, cepat naik” kata kak nando. Aku pun langsung di bonceng dengan sepeda kak Nando menuju taman.
***
Sore itu hujan. Aku dan kak Nando sengaja pulang tengah malam. Dengan  keadaan yang basah kuyup, aku dan kak Nando masuk kerumah. ternyata di  ruang tamu ayah dan ibu sudah menunggu.
“darimana saja kalian ?” selidik ayah. Kulihat wajah ibu tak kalah cemasnya.
“bukan urusan ayah” jawab kak Nando dingin. Lalu menuju ke kamar Nazila.
“ditanya kok jawabnya seperti itu. Ini gara-gara kamu !!! kamu tidak  becus mengurus anak-anak” kata ayah sambil menunjkkan tangannya ke muka  ibu. Aku yang melihat ibu disalahkan terus angkat bicara.
“ayah jangan seenaknya menyalahkan ibu !!! ibu gak salah apa-apa. Kami yang salah yah” kataku terisak.
“kalian kemana saja tadi ? hari sudah tengah malam, kalian baru pulang. Kalau kalian begini terus mau jadi apa kalian ?”
“bukannya ayah yang sering seperti itu?” kataku dengan nada menantang  “ayah sering pulang pagi, ayah tidak bekerja, ayah sering menuntun ini-  itu pada ibu. Ngapain aja ayah selama ini ?. ayah jelas-jelas  pengngguran. Kerja apa ayah semalaman ? hasilnya toh.. gak ada juga”  jawabku berani. Aku terpaksa melawan ayah. Maafkan Andia, ayah.
Ayah dengan muka merah menamparku untuk yang kedua kalinya. Aku menangis, ibu memelukku.
“jangan pukul anakku yah… ayah selalu saja seperti itu”
“ITU KARNA KAMU TIDAK BECUS MENGAJARI ANAK-ANAK SOPAN SANTUN”
“BUKAN KARNA AKU !!! TAPI KARNA KAMU YANG TIDAK PERNAH MENDIDIK MEREKA.  KAMU YANG MEMBUAT MEREKA MELAWAN”jawab ibu lantang. Aku tahu, ibu sudah  letih dengan semua ini.
Ayah dan ibu bertengkar lagi. Aku tidak  tahan melihat kejadian ini. aku pusing. Tanpa pikir panjang, aku berlari  keluar rumah. Menyebrangi jalan ditengah hujan deras malam itu. Ayah  mengejarku dari belakang, tapi aku tidak peduli. Aku terus berlari dan  tiba-tiba….
BRUUGG…. TRAAKKK…
Apa itu ?
Aku menoleh ke belakang.
“AYAAAAAHHHHHHH” ibu menjerit sekuat tenaga. Ayah tertabrak. Truk yang menabrak ayah melarikan diri.
Aku terpaku di tengah hujan. Badanku lemas. Aku terduduk dan menangis.  Kak Nando datang dan menggendongku. Aku memberontak dan dengan sekuat  tenaga kuhampiri ayah yang berlumuran darah. Sebentar saja orang-orang  sudah ramai.
“CEPAT TELEPON AMBULAN” seru seseorang disana. Ibu dan  kak Nando terus menangis. Sementara sebelum ambulan datang, ayah masih  sadar.
“bu…”
“ayah sudah sadar ? ayah.. bertahan ya ayah” kata ibu.
“bu…. Aya…h m..m..minta maaf… kkk…kalau ayah...hhh ad….dda ssss..salah” kata ayah lemah.
Ibu menangis “ayah jangan ngomong seperti itu. Ayah harus kuat yaa…  ayah harus bertahan. Ibu sudah maafin semuanya yah…” kata ibu.
Ayah tersenyum dan memejamkan matanya. Tak lama kemudian, ayah menhhembuskan nafasnya yang terakhir.
“AYAAAHHH” teriak aku, kak Nando dan Ibu bersamaan.
“innalilahiwa’inna ilaihi roji’un”
***
Pagi ini ayah dikebumikan. Dengan perasaan yang sangat menyesal,  sebelum ayah meninggal, aku sempat melawan ayah. Yaa… aku merasa akulah  anak yang durhaka terhadap ayahku. Ibuku tak hentinya menangis. Kak  Nando tak berhenti membacakan ayah yasin.
Jangan tanya perasaanku  saat itu. Aku hancur. Kini aku menjadi anak yatim. Adikku, Nazila… sudah  pasti nanti ia dibesarkan tanpa kasih sayang dari seorang ayah. Kini  pula ibuku yang mejadi single parent. Ibu sekaligus ayah bagi kami  semua. 


Bendera putih kini telah dipasang di depan rumahku. Orang  ramai berlalu lalang tak mampu membuatku menghilangkan luka yang kualami  saat ini. ayah sudah tiada lagi. Tak ada lagi yang memberiku permen  murah kala aku kecil. Tak ada lagi yang menungguku ketika aku pulang  malam seperti waktu kemarin. Dan tak ada lagi kasih sayang seorang ayah…
Pagi ini pelangi muncul seolah-olah menyampaikan salam perpisahan pada  ayah. Yaa… pelangi tujuh warna itu kini menjadi penghiburku disaat aku  kehilangan orang yang kusayang. Pelangi karena hujan kemarin. Dan hujan  kemarin yang membuat semuanya berubah seperti sekarang.
Kini sejak  kejadian itu, aku selalu menanti hujan tiba. Hujan yang menyisakan luka,  dan memunculkan pelangi setelahnya. Pelangi itu ku tunggu hadir kembali  yang mengingatkan aku pada orang yang telah hilang. Orang yang  kusayang.
Ayah…
pelangi itu untuk ayah.
Percakapan Obrolan Berakhir..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar